AMBIL UANGNYA, JANGAN COBLOS ORANGNYA, APAKAH BOLEH ??



AMBIL UANGNYA, JANGAN COBLOS ORANGNYA, APAKAH BOLEH ??

Mengingat sekarang lagi musim musimnya pemilu di indonesia, mungkin banyak yang sudah mengenal yang namanya mencogok. Mencogok yang saya maksud disini adalah dimana rakyat diberi uang dari caleg agar rakyat bisa memilihnya. Namun bagaimana jika rakyat itu sudah memiliki pilihan lain untuk dicoblos? apakah berdosa tidak mencoblos orang yang sudah memberi uang? lantas apakah ada masih berdosa jika menerima uang sogokan? apakah uang sogokan itu haram ? nah dengan banyaknya pertanyaan tersebut saya berterinspirasi untuk membuat artikel ini.
tentunya bagi sebagian orang yang mengerti, akan merasa bimbang. "saya butuh uang. tapi saya punya pilihan caleg lain". dan hal tersebut jika dipikir pikir akan menimbulkan stress yang berkepanjangan. bahkan banyak orang yang TERPAKSA harus mencoblos orang yang sudah memberi ia uang. "sudahlah lagian saya gak tau kedepannya harus gimana, yasudah saya coblos orangnya aja. lagian saya butuh uangnya. daripada bimbang nyoblos atau enggak. mending saya coblos saja"
lantas bagaimana menghadapi hal semacam ini?

banyak sekali jawaban untuk menjawab pertanyaan pertanyaan tersebut.

1. yang menyogok salah, yang disogok salah.

fatwa Al Lajnah Ad Da’imah lil Buhuts wal Ifta’ (Komisi Tetap Urusan Riset dan Fatwa Kerajaan Arab Saudi).

Fatwa no. 7245
الفتوى رقم ( 7245 )
س : ما حكم الإسلام إذا قام المرشح في الانتخابات النيابية بإعطاء الناخب مالا مقابل أن يدلي له بصوته في الانتخابات ، وما عقوبة هذا ؟ أفيدونا جزاكم الله خيرا وجعلكم ذخرا للإسلام ؟
ج : إعطاء الناخب مالا من المرشح من أجل أن يصوت باسمه نوع من الرشوة ، وهي محرمة .
وأما النظر في العقوبة فمرجعه المحاكم الشرعية .
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
عضو … عضو … نائب الرئيس … الرئيس
عبد الله بن قعود … عبد الله بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Pertanyaan:

Apa hukum islam apabila calon anggota parlemen (dewan perwakilan rakyat) memberikan kepada pemilih sejumlah uang dengan tujuan agar dia mencoblos gambar dirinya pada pemilu nanti. Apa sanksi perbuatan ini? Berilah jawaban kepada kami. Semoga Allah memberikan balasan kebaikan pada kalian dan menjadikan kalian simpanan bernilai bagi Islam.

Jawab:

Pemberian harta (hadiah) dari calon anggota parlemen kepada calon pemilih agar dia mencoblos gambarnya dalam pemilihan nanti termasuk riswah (uang suap) dan ini termasuk uang yang haram. Adapun mengenai sanksi dapat merujuk pada pengadilan. [baca: hukuman orang yang menyuap adalah ta’zir, -ed]
Ingatlah bahwa uang sogok, suap dan risywah adalah uang yang haram. Uang tersebut diharamkan bagi yang memberi maupun yang menerima, bahkan termasuk pula yang menjadi perantara.
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313. Kata Syaikh Al Albani hadits ini shahih). Dalam riwayat yang lain Nabi melaknat al Ra-isy (الرَّائِشَ) yaitu penghubung antara penyuap dan yang disuap (HR. Ahmad 5/279). Meski hadits ini lemah namun maknanya benar. Orang yang menjadi penghubung antara penyuap dan yang disuap berarti membantu orang untuk berbuat dosa dan ini adalah suatu yang terlarang. Hadits di atas menunjukkan bahwa suap termasuk dosa besar, karena ancamannya adalah laknat. Yaitu terjauhkan dari rahmat Allah. Bahkan sogok itu haram berdasarkan ijma’ (kesepakatan ulama).


2. yang menyogok tidak salah, yang disogok salah.

1 bagaimana hukumnya orang menyogok untuk jadi DPR /PRESIDEN
NGASIh UANG BIAR MENCOBLOS-nya?

2 akad apakah uang trsbut?


JAWABAN :

  • Guz Zein
من كان له حق مضيع لم يجد طريق للوصول اليه الا بالرشوة , فالأفضل له أن يصبر حتى ييسر الله له أفضل السبيل لرفع الظلم , ونيل الحق . فان سلك سبيل الرشوة من اجل دلك , فالاثم على الأخد المرتشى ليس عليه اثم الراشى فى هده الحالة. ( الحلال والحرام فى الاسلام ,تأليف : الدكتور الشيخ يوسف القرضاوي )
Kesimpulannya,,,, apabila seseorang yg ingin menjadi DPR, sedangkan persyaratannya sudah terpenuhi, pencalon mempunyai ilmu dan ijazah yg di perlukan, nmn tdk bisa dia capai kecuali dengan menyugok, maka bagi yg melamar mau menjadi DPR, hukumnya halal. Dan bagi yg menerima sogokan tadi hukumnya haram. INI DI NAMAKAN RUSWAH LI ROF`ID DHOLAM. Nah kalao hukumnya sudah halal bagi pelamar DPR yg menyogok tersebut, maka sudah bisa di pastikan mengenai hukum gajinya. SUDAH TENTU HALAL. Wallohu A`lam Bissowab

  • Wes Qie
Guz @ yupz se 7 low sy mengarahkan bkn ihtilaf melain bg yg berhak tuk jd DPR kendati demikian tetap harom bg yg menerima, namun apabila semata" agar bs jd DPR maka hukumx RISYWAH memberi dan yg dberi adl haram.

WAQOBULUR RISYWATI HAROOMUN WAHIA MA YUBDZILU LIL QOODI LIYAHKUMA BIGHOIRIL HAQQI AUW LIYAMTANI'A MINAL HUKMI WAI'TOO IHA KADZAALIKA LI ANNAHU I'ANATUN 'ALALAL MAKSIATI. AMMA panjang ibarotx 


NIHAYATUZZAIN 370

  • Syifa Ramadhany
Secara garis besar cuma ada 2 
1. mutlaq haram baik yg menerima ato yg memberi.
2. haram yg menerima tidak haram yg memberi.

Risywah menurut terminologinya mempunyai arti "sesuatu yang diberikan kepada seseorang dengan syarat bisa membantu kepada orang yang memberi" dan pemberian tersebut tidak bisa dikategorikan hadiah sebab bila hadiah pemberiannya bukan karena maksud tertentu.
Risywah secara fiqh: Adalah sebuah pemberian yang dimaksudkan untuk membenarkan sebuah hal yang batil atau membatalkan sesuatu yang haq.

Misbahul Munir halaman 244

الرِّشْوَةُ- بِالكَسْرِ: مَا يُعْطِيْهِ الشَّحْصُ الحَاكِمَ وَغَيْرَهُ لِيَحْكُمَ لَهُ أَو يَحْمِلُهُ عَلَى مَا يُرِيْدُ.

Risywah adalah apa yang diberikan oleh seseorang kepada hakim atau lainnya agar dia menetapkan hukum yang menguntungkan orang yang memberi atau hakim tersebut membawa dia sesuai dengan apa yang ia inginkan.

قَالَ الشَّيْخُ مُحَمَّدٌ بْنُ عُمَرَ نَوَوِي الْجَاوِيُ: وَأَخْذُ الرِّشْوَةِ بِكَسْرِ الرَّاءِ وَهُوَ مَا يُعْطِيْهِ الشَّخْصُ لِحَاكِمٍ أَوْ غَيْرِهِ لِيَحْكُمَ لَهُ أَوْ يَحْمِلَهُ عَلىَ مَا يُرِيْدُ كَذَا فِي الْمِصْبَاحِ وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْرِيْفَاتِ وَهُوَ مَا يُعْطَى لإِبْطَالِ حَقٍّ أَوْ لإِحْقَاقِ بَاطِلٍ اهـ مرقاة صعود التصديق ص 74.

Syaikh Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi (Syaikh Nawawi Banten) berkata: "Termasuk perbuatan maksiat adalah menerima suap/risywah. Suap adalah sesuatu yang diberikan kepada seorang hakim atau lainnya, agar keputusannya memihak si pemberi atau mengikuti kemauan pemberi, sebagaimana yang terdapat dalam kitab al-Mishbab.
Pengarang kitab al-Ta'rifat berkata: "Suap adalah sesuatu yang diberikan karena bertujuan membatalkan kebenaran atau membenarkan kesalahan."
(Mirqat Shu'ud al-Tashidiq, hal. 74



3. yang menyogok salah, yang disogok tidak salah

nah untuk menjawab pernyataan diatas kita ambil dari sebagian besar pemikiran rakyat dan disini juga termasuk opini saya. namun tentunya jawaban ini hanya opini semata jadi belum tentu hukumnya.
"yang ngasih dia, sebelumnya saya gak janji apa apa. jadi saya gak dosa"
"saya dikasih pokoknya ya menerima. kalau menolak pemberian orang kan malah dosa"
"jika tidak ada perjanjian sebelumnya, tidak akan dosa"

apa yang anda pikirkan dari jawaban diatas?? 
"kalau dipikir lebih dalam, jawaban diatas ada benarnya. kenapa yang diberi harus dosa, kan dia bukan meminta. justru menyogok itulah perbuatan dosa. yang diberi juga gak ingkar janji, karena gak pernah berjanji. namun disisi lain, jika uang sogokan adalah uang haram, maka yang menerima nya juga ikut haram. lantas apakah bedanya antara diberi sama disogok??? bukannya dalam kasus diatas kita diberi?? toh antara pemberi dan penerima tidak bersepakat. emang harus milih orang yang ngasih uang ya? bukannya itu juga proses berkampanye? jadi gak masalah kalau tidak dicoblos"


------------------------------------------------------------------------------------------------------------


nah melihat beberapa pernyataan diatas, lantas apakah yang anda lakukan ?
banyak sekali yang perlu dipertimbangkan. dan semua jawaban diatas mungkin ada yang benar mungkin ada yang salah. intinya kita ambil positif nya saja. jika memang anda ragu atau takut dosa, lebih baik jangan terima uangnya dan menolak dengan cara baik baik. jika memang anda takut dosa atau apa. ya lakukan sesuai hati anda berkata apa. intinya disini adalah keyakinan diri sendiri

sekian artikel dari saya, semoga bermanfaat. :]


sumber :
http://fiqhsalafiyyach.blogspot.com/2013/02/seputar-uang-risywah-suap.html
https://www.facebook.com/muslimah.or.id/photos/a.10150220422680195.456394.215781025194/10153964128330195/?type=1&relevant_count=1

Comments